WELCOME

"selamat datang di blog saya : Muhammad Sa'dullah el-Fattaah"_KRITIK & SARAN yang membangun akan senantiasa kami tunggu, VIA e-mail : lord_musa@yahoo.co.id

Selasa, 03 Juni 2014

Naskah Drama TUGAS AKHIR BAHASA INDONESIA DRAMA PERCINTAAN

Ada seorang pemuda yang bernama marcel dia sangat pandai dikampusnya, sehingga dia meraih beberapa prestasi di bidang akademik pada sekolahnya, dia juga memiliki pacar, yang bernama sheila, dia adalah seorang yang cantik dan merupakan perempuan yang setia, walaupun ada sesuatu yang dia tidak ketahui dari marcel yaitu, bahwa marcel memiliki penyakit jantung stadium akhir dan sudah sangat berbahaya. Marcel hanya tinggal bersama ibunya, karena ayahnya meninggal beberapa tahun lalu akibat penyakit yang sama. Namun marcel tetap menjalani aktivitas selayaknya orang biasa, dan pada suatu hari di rumah marcel…
Babak (rumah)
Adegan (ruang tamu)
1). Marcel            : ibu nampaknya hidup aku sudah tidak lama lagi ya…
2). Ibu                   : ha!  kamu bicara apa nak? (terkejut)
3). Marcel           : tidak bu… soalnya aku terus-terusan saja sakit, dan terus menyusahkan ibu untuk membawaku ke dokter, lebih baik aku mati saja…
4). Ibu                   : jangan bicara begitu nak, itu sama saja kamu menyia-nyiakan hidup yang Tuhan berikan kepadamu, lagipula dengan prestasi kamu  saja ibu sudah bangga padamu…
5). Marcel            : maaf bu sudah bicara begitu…                  
                Pada suatu hari dikampusnya, marcel bermaksud mengajak Sheila untuk jalan-jalan, karena mereka berdua sudah lama tidak jalan-jalan bersama-sama. Dan saat itu  dia berjalan bersama dion sahabat baiknya
Babak    (kampus)
Adegan  (gang kampus) 
6). Marcel            : Sheila bisa kita bicara sebentar?
7). Sheila              : tumben-tumbenan kamu memanggil aku di kampus, biasanya kamu sibuk dengan tugas kamu. Ada apa?
8). Marcel            : begini, sebentar malam kan malam minggu bisa tidak kita jalan-jalan, karena sudah cukup lama juga kita berdua tidak jalan-jalan.
9). Sheila              : boleh, lagipula aku juga sudah rindu sama kamu.
10). Marcel         : ok. Sampai bertemu sebentar malam
11). Sheila           : sampai jumpa…
                Pada malam hari…
Babak    (jalan)
Adegan (jalan-jalan tengah malam)        
12). Marcel         : bagaimana film tadi? romantis ya..
13). Sheila           : iya, apalagi pemeran cowoknya…
14). Marcel         : seperti akulah…
15). Sheila           : gr kamu… (tertawa)
16). Marcel         : ngomong—ngomong, ibu aku belum kenal kamu ya?
17). Sheila           : memangnya kenapa?
18). Marcel         : nggak. Bagaimana kalau aku ajak kamu pergi kenalan sama ibu aku?
19). Sheila           : tapi… (berpikir)
20). Marcel         : ayolah, ibu aku nggak akan marah kok!
21). Sheila           : baiklah. Tapi jangan sekarang…
22). Marcel         : ok. Nanti aku hubungi kamu… 
                Sheila menyetujui permintaan dari marcel. Memang ibu marcel sudah mendambakan agar marcel mempunyai pacar, karena marcel tahun depan akan wisuda. Dan pada suatu hari akhirnya marcel mambawa sheila untuk bertemu dengan ibunya.
Babak    (rumah)
Adegan (luar rumah dan ruang tamu)
23). Marcel         : siang ibu… (mengetok pintu rumahnya)
24). Ibu                 : eh marcel, loh siapa ini? (kaget)
25). Marcel         : kenalkan ibu ini pacar aku, namanya Sheila…
26). Ibu                 : jadi ini pacar kamu… ayo masuk dulu
                Didalam rumah marcel…
27). Ibu                 : sudah berapa lama kalian jadian?
28). Sheila           : 2 tahun…
29). Ibu                 : sudah cukup lama ya… jadi kapan kalian bertunangan?
30). Sheila           : ha! (kaget)
31). Marcel         : ibu! Kami belum berpikir sampai disitu, lagipula aku membawa dia kesini hanya untuk memperkenalkan pada ibu…
32). Ibu                 : maaf, ibu hanya bercanda…
                Hubungan antara ibu dan Sheila pun menjadi sangat harmonis dan akur, bahkan Sheila sudah menganggap ibu marcel sebagai ibunya sendiri. Sampai pada suatu hari, ibu sakit dan marcel pergi keluar daerah karena mendapat tugas dari kampusnya untuk studi banding. Ibupun menelepon Sheila.
33). Ibu                 : Halo, sheila bisa datang kerumah ibu?
34). Sheila           : memangnya kenapa bu?
35). Ibu                 : badan ibu tiba-tiba terasa tidak enak…
36). Sheila           : baik bu, Sheila akan segera kesana
37). Ibu                 : terima kasih sebelumnya ya nak…         
                Akhirnya selama ibu marcel sakit, Sheila lah menjaga ibu dengan penuh kasih sayang, dia menjaga ibu dengan tidak terlihat sedikitpun rasa berat hati dari sheila . Setelah marcel datang, ibu menceritakan semua yang terjadi selama marcel pergi.
Babak    (rumah)
Adegan (ruang tamu)
38). Marcel         : selamat siang ibu...
39). Ibu                 : siang, eh marcel . Ayo masuk nak.
40). Marcel         : bagaimana keadaan ibu selama aku pergi? Baik-baik saja kan?
41). Ibu                 : ia. Tapi, ibu sempat sakit, dan…
42). Marcel         : dan kenapa bu, aku sangat kuatir jika terjadi sesuatu kepada ibu!
43). Ibu                 : ibu sudah sehat, karena Sheila menjaga ibu selama ibu sakit.
44). Marcel         : Sheila?
45). Ibu                 : ia Sheila. Ibu melihat dia menjaga ibu dengan penuh ketulusan hati, dan seperti seorang anak yang menjaga ibunya sendiri.
46). Marcel         : dia memang orang yang baik bu..
47). Ibu                 : ia, dan nampaknya dia sudah siap menjadi menantu ibu..
48). Marcel         : kenapa ibu selalu bicara begitu? Aku belum siap ibu. Lagipula…
49). Ibu                 : kenapa? Tahun depan kamu akan lulus, kamu juga seorang siswa berprestasi, apalagi yang kurang dari kamu?
50). Marcel         : aku takut kalau nantinya dia akan sakit hati lebih awal, karena melihat aku meninggal..
51). Ibu                 : ibu kan sudah bilang berkali-kali jangan ucapkan kata itu lagi
52). Marcel         : tapi bu…           
                Ternyata selama ini marcel tidak menuruti ibunya, untuk bertunangan karena, marcel takut dia akan meninggal dan akan mengecewakan sheila, karena selama ini juga sheila belum tahu kalau marcel menderita penyakit jantung. Walaupun marcel sangat sayang kepada sheila tetapi karena penyakit yang ia derita semuanya berubah. Kemudian disaat semua kegalauan ini, masih ada seorang teman yang selalu setia berada disisi marcel namanya dion. Dion teman yang selama ini sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri, dan merupakan tempat dia bertukar pikiran, dan dion lah tempat untuk marcel mencari solusi dari setiap masalahnya selain ibunya sendiri.
Babak    (kampus)
Adegan (taman kampus)
53). Dion              : ada apa kamu memanggil aku? Pasti masalah sheila lagi, ia kan?
54). Marcel         : sebenarnya ia tapi, ini menyangkut penyakit aku..
55). Dion              : kenapa dengan penyakt kamu? Penyakit kamu kambuh lagi?
56). Marcel         : bukan soal itu..
57). Dion              : lalu soal apa?
58). Marcel         : begini, tahun depan aku kan lulus, lalu ibu aku cepat-cepat menyuruh aku untuk bertunangan dengan sheila…
59). Dion              : bertunangan? (terkejut), gila kamu kaliankan baru pacaran dua tahun
60). Marcel         : bukan itu masalahnya, masalahnya adalah, aku takut pada saat bertunangan nanti karena penyakit aku, sheila akan kecewa dan sakit hati..
61). Dion              : memangnya kenapa dengan penyakit kamu?
62). Marcel         : aku takut aku akan meninggal lebih awal…
63). Dion              : bercanda kamu! (terkejut karena marcel bicara sperti itu)
64). Marcel         : aku serius..
65). Dion              : kalau kamu sebagai pejantan tangguh kamu katakan yang sejujurnya..
66). Marcel         : maksudnya?
67). Dion              : kamu harus berani mengatakan yang sesungguhnya. Karena kamu sendiri juga tidak ingin mengecewakan diakan..
68). Marcel         : tapi aku takut!
69). Dion              : takut itulah yang membelenggu hidup kamu selama ini…
                Setelah mereka berdua berbicara, marcel menemukan jalan keluar yang terbaik yang sudah diberikan oleh dion yaitu, berbicara sejujurnya dan jangan menyembunyikan sesuatu apalagi kepada orang yang kita sayangi. Tetapi marcel masih saja terbelenggu dengan ketakutannya sendiri. Pada suatu kali Marcel ingin mengatakan yang sebenarnya kepada sheila tetapi…
70). Marcel         : sheila, sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepadamu
71). Shela            : apa itu?
72). Marcel         : mmm.. (ragu)
73). Sheila           : apa? katakan saja?
74). Marcel         : nggak kok, aku cuma ingin mengucapkan terima kasih karena kamu telah menjaga ibu aku waktu itu, saat ibu aku sakit
75). Sheila           : oh waktu itu.. ia sama-sama    
                Tetapi marcel masih terbelenggu dengan rasa takutnya sendiri. Rasa takut itulah yang menghalangi marcel untuk berkata jujur kepada sheila,  sehingga sheila sendiri mulai curiga terhadap kelakuan marcel yang terkesan menyembunyikan sesuatu, lalu dia mencari solusi dengan bertemu ibunya, suatu hari sheila bertemu dengan ibunya sambil minum teh…
Babak    (rumah sheila)
Adegan (ruang makan)
76). Sheila           : ibu, cinta memang menyenangkan ya, tetapi kadang-kadang juga menyakitkan..
77). Ibu sheila    : memangnya kenapa?
78). Sheila           : tidak apa-apa ibu, aku hanya melihat banyak orang yang tersakiti oleh cinta. Kalau  percintaan ibu dengan ayah bagaimana? Pernakah ayah menyakiti ibu?
79). Ibu sheila : pernah.. tapi sudahlah itu hal biasa dalam percintaan, buktinya sekarang kami berdua bisa langeng, dan bisa menghasilkan kamu dan kakak kamu..
80). Sheila         : tapi, pernahkah ayah menyembunyikan sesuatu dari ibu, apalagi hal tersebut menyangkut kehidupan ayah? Dan apa yang ibu lakukan kalau memang ada hal ayah sembunyikan kepada ibu?
81). Ibu sheila : mungkin tidak, tapi kalau ada, ibu akan berkata baik-baik dengan ayah, pasti kalau ayah sayang, ayah juga akan menceritakannya pada ibu, tetapi kalau tidak pasti sebaliknya..
82). Sheila         : iya yah ibu…
                          Sheila akhirnya mendapat solusi dari masalahnya tersebut, sehingga dia bermaksud untuk bertemu marcel dengan harapan marcel bisa menceritakan sesuatu hal yang ia sembunyikan darinya, tetapi setiap kali dia mengajak marcel untuk bertemu, marcel selalu tidak terlihat di kampus, sehingga dia mencari tahu keadaan marcel melalui ibu marcel tetapi  saat dia menelepon ibu marcel selalu saja tidak diangkat, begitu juga ketika dia pergi ke rumah marcel, rumah marcel belakangan menjadi kosong, sehingga membuat kecurigaannya bertambah, tapi sheila masih berpikir positif dengan bertemu teman baik marcel yaitu dion di-kampusnya…
Babak  (kampus)
Adegan (gang kampus)
83). Sheila         : dion kamu tahu dimana marcel sekarang?
84). Dion            : emm.. (memegang kepalanya)
85). Sheila         : kamu tahu? (memegang tangan dion), please.. katakan padaku!
86). Dion            : sebenarnya.. (ragu)
87). Sheila         : sebenarnya apa ! (membentak)
88). Dion            : tapi jangan katakan sama marcel aku yang bilang ya?
89). Sheila         : ia!
90). Dion            : begini, karena dia sangat sayang sama kamu, sampai-sampai dia tidak menceritakan bahwa dia menderita penyakit jantung stadium akhir..
91). Sheila         : apa!!! (kaget), lalu? (mulai menitihkan air mata)
92). Dion            : dia sekarang berada dirumah sakit, cepat kamu pergi, kondisinya sudah semakin buruk, siapa tahu dengan adanya kamu kondisinya bisa berubah..
93). Sheila         : terima kasih ya ion! (pergi dengan menangis)
                          Sheila akhirnya mengetahui hal yang disembunyikan marcel darinya melalui teman baik marcel yaitu, dion. Setelah dia mengetahui semuanya sheila langsung bergegas pergi ke rumah sakit, dengan rasa penyesalan dan sedih dia menemui marcel yang terbaring lemah  dirumah sakit yang saat itu sedang dijaga oleh ibunya…
Babak (rumah sakit)
Adegan (ruang tempat marcel dirawat)
94). Sheila         : ibu!! (memeluk ibu) marcel!! (memeluk marcel dengan menangis), ibu apa yang terjadi dengan marcel?
95). Ibu               : dia sedang koma, darimana kamu tahu dia sedang dirumah sakit?
96). Sheila         : itu tidak penting ibu, yang aku bisa melihat marcel sekarang..
                          Sejak saat itu sheila setiap hari setelah pulang dari kampus sheila selalu pergi ke rumah sakit untuk melihat marcel, dan pada suatu malam mata marcel terbuka…
97). Marcel       : sheila?
98). Ibu dan sheila: marcel! (senang)
99). Sheila         : kamu sudah sadar?
100). Marcel     : ia. Darimana kamu tahu aku dirumah sakit?
101). Sheila       : itu tidak penting, yang penting sekarang kamu bisa sadar, ia kan bu?
102). Ibu            : ia benar apa kata sheila…
                          Akhirnya marcel sadar, namun tidak lama kemudian ibu sakit karena kecapekan, dan sheila dan dion bergantian menjaga marcel dirumah sakit…
103). Dion          : marcel, sebenarnya aku yang bilang ke sheila kamu sedang berada dirumah sakit, lagipula aku sudah tidak bisa menahan sheila untuk melihat kamu
104). Marcel     : sudahlah itu, tidak apa-apa. Ah! (memegang jantungnya)
105). Dion          : ada apa?
106). Marcel     : jantungku tiba-tiba sakit. Ah!
                          Dion langsung memanggil sheila yang sedang menjaga ibu yang sakit…
107). Dion          : halo, sheila cepat datang kerumah sakit
108). Sheila       : kenapa?
109). Dion          : kondisi marcel kembali turun, cepat datang kemari..
110). Sheila       : baik!
                          Sheila berpamitan pada ibu untuk pergi ke rumah sakit. Dirumah sakit…
111). Sheila       : marcel! (kaget melihat marcel mengerang sakit yang sedang diurus dokter)
112). Dion          : tunggu sheila biarkan dokter yang mengurus dia (mengajak sheila keluar)
                          Sementara mereka dalam keadaan kuatir, dokter akhirnya keluar dari ruangan…
113). Sheila       : bagaimana dok? Dia baik-baik saja kan?
114). Dokter                     : kondisinya parah tetapi dia terus-terusan saja memanggil nama sheila!
115). Sheila       : itu aku dok!
116). Dokter                     : sebaiknya kamu masuk kedalam, sepertinya dia sangat membutuhkan kamu!
                          Sheila pun menuruti perintah dokter yang menyuruhnya pergi kedalam, karena marcel terus-terus saja memanggil sheila…
117). Sheila       : marcel ada apa? Aku ada disini! (menangis)
118). Marcel     : kamu.. cantik.. sekali! (menangis)
119). Sheila       : lalu! (menangis)
120). Marcel     : aku cuma mau minta tolong..
121). Sheila       : apa itu, aku akan melakukannya.. (menangis)
122). Marcel     : kamu sayang aku kan!
123). Sheila       : ia aku sayang kamu, sangat sayang, memangnya kenapa?
124). Marcel     : tolong jaga ibu aku, dan anggaplah dia sebagai ibu kamu sendir!
125). Sheila       : ia! Tapi kenapa, kamu masih disini kan?
126). Marcel     : ia! Tapi Tuhan terlalu sayang padaku! (menutup mata untuk selama-lamanya)
127). Sheila       : marcel!! marcel!! marcel!! (berteriak)
                          Cinta memang indah, jika ada kesetiaan dan rasa kasih sayang bahkan melebihi semuanya yang berada didunia ini tapi kita harus ingat, sebesar apapun rasa kasih sayang kita kepada seseorang, tetapi tetap saja tidak bisa melawan rasa kasih sayang Tuhan kepada kita.

TAMAT

sumber : http://vicariomotulo.blogspot.com/2012/11/naskah-drama.html

Contoh Naskah Drama Tentang Lingkungan

MASYARAKAT YANG TIDAK SADAR AKAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN

Sampah dimana-mana, air tergenang disana-sini, dan selokan tersumbat. Itulah yang sering kita lihat sekarang ini, seiring dengan perkembangan zaman dan masa.
Masyarakat kini tidak lagi sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan. Ada banyak orang membuang sampah setiap hari sampai bertumpuk dan bahkan sudah menjadi gunung sampah.
Limbah rumah tangga, industri dan kegiatan lain yang dilakukan manusia dibuang begitu juga saja kedalam selokan ataupun sungai. Mereka tidak tahu akibat yang akan timbul setelah itu.
Pada drama ini, kami akan mengangkat tema Lingkungan.

BABAK I
Di sore hari  yang masih terik, Efendy, Gusman dan Herta sedang jalan-jalan dan berhenti diatas jembatan sungai Moawo.
Fendy                         : (Sambil berhenti dan memandang kearah sungai yang penuh dengan sampah
                                    Eh .... Gusman. Coba lihat sungai ini lah. . . .
Gusman                      : Ia kenapa ? (Sambil menoleh ke arah yang diperhatikan si Fendy)
Fendy                         : Lihatlah, banyak sekali sampah bertumpuk disungai ini. (Sambil menunjuk kearah tumpukan sampah).
Herta                          : Ia ya. . . Kenapa bisa begitu ya . . . ? (Sambil melihat tumpukan sampah terus menggelengkan kepalanya).
Fendy                         : Itu karena masyarakat sekitar sini itu terus membuang sampah ke dalam sungai ini. (Sambil memandang kearah Herta)
Gusman                      : (Berbalik ke arah jalan) Ia . .ya. .  Kenapa masyarakat begitu tidak sadar akan kebersihan lingkungan ya . . . ? (memandang kearah Herta)
Herta                          : Yah, aku juga tak tahu mengapa bisa begitu. (Sambil berbalik ke arah jalan)
Fendy                         : (Seakan seperti menjelaskan). Itu semua perlu partisipasi dari seluruh kalangan masyarakat untuk sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan dan juga perlu peranan pemerintah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Gusman                      : (Menyambung perkataan si Fendy). Dengan begitu tercipta lingkungan yang bersih, indah dan sejuk.
Herta                          : Eh . . ngomong-ngomong udah malam. Pulang yukk !!!
Fendy & Gusman      : Ayo. . .(berjalan pulang mengajak Herta)
Mereka bertiga pulang ke rumah karena senja juga sudah mulai gelap.



BABAK II
Ivan dan Waldiman duduk berbarengan dan sejajar dikursi di depan Rental & Fotocopy di simpang Moawo. Mereka sedang menunggu angkot.
Ivan                            : Eh . . Wal, kamu udah dapat nggak artikel lingkungan itu ? (Sambil menepuk punggung kawannya itu)
Waldiman                  : (Kaget sebentar). Masih belum. Aku aja baru mau mencarinya di warnet (Memandang kearah Ivan).
Ivan                            : Oh gitu ya. Berarti tujuan kita sama donk.
Tiba-tiba Valent datang dari arah depan dan menyapa kedua temannya itu.
Valent                         : (Sambil memberi senyum dan menyapa). Hy . . . .Lagi ngapain kalian disini?
Waldiman & Ivan      : Lagi nunggu angkot, mau ke warnet. (Menjawab secara bersamaan dan melihat kearah Valent)
Ivan                            : (Menggeser seakan memberi tempat duduk buat si Valent)                  Silakan duduk Valent, kamu mau kemana ? Wal. . . geser sini sikit donk beri dia tempat duduk !!! (Mumukul pelan paha si Waldiman).
Valent                         : Oh ia . . .Terimakasih ya . .
Ivan                            : Eh . .Wal, kamu kan mau nyari artikel tentang lingkungan tu. Kamu foto aja ini parit, lalu kamu print dan kasih pendapatmu!! (Memberi saran kepada Waldiman)
Waldiman                  : Oh, ia juga ya. Bisa-bisa (Sambil mengeluarkan handphonenya lalu memotret parit yang memang tergenang dan penuh sampah itu ?
Valent                         : Eh, kalian berdua pikir dulu, kenapa parit ini bisa tergenang dan penuh dengan sampah kayak gini ?
Ivan                            : Meneketehe, masyarakatnya kali yang ga sadar. (Sambil  memandang kearah jalan)
Waldiman                  : Termasuk kamukan, Van. Sampahmu tadi kamu buang disitu juga kan... (Sambil tertawa kecil)
Valent                         : Masyarakat tak ada sadar-sadarnya juga ya. Apa mereka tidak tahu ini akan menimbulkan penyakit (Sambil menggelengkan kepalanya).
Ivan                            : Ia juga sich, ini kan akan menimbulkan penyakit, khusunya malaria dan membuat udara tercemar. (Memandang kearah Valent dan Waldiman)
Valent                         : Coba perhatikanlah sekitar sini. Masyarakat membuang limah industri rumah tangganya diparit. (Sambil melihat sekeliling)
Waldiman                  : (Menyambung perkataan si Valent). Kantin sekitar sini membuang sampahnya juga diparit ini. Bagaimana tidak tersumbat ?
Ivan                            : Disinilah sebenarnya diperlukan peranan pemerintah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Valent                         : Tapi tidak terlepas juga kan dari kesadaran tiap insan masyarakatnya, kan?
Waldiman                  : Ya, kalian berdua benar. Menurut kamu Van, bagaimana cara pemerintah berperan dalam hal ini?
Ivan                            : Ya,  lewat sosialisasi  dan media massa. Misalnya memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya septitank dirumah, atau memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk membuang sampah ditempatnya dengan memisahkan  yang organik dan anorganik.
Valent                         : (Menyambung perkataan si Ivan). Setelah semua itu terlaksana maka aku yakin, lingkungan akan jadi bersih dan sehat.
Waldiman                  : Baiklah kalau begitu.
Valent                         : Eh itu angkot datang. (Sambil menunjuk angkot yang baru datang). Kalian mau berangkat bareng aku nggak ?
Ivan & Waldiman      : Dengan terpaksa, daripada disini terus sampai malam. (Tertawa kecil dan sambil bercanda).



BABAK III                
Pagi hari pada waktu istrahat pertama. Ivan, Fendy dan Waldiman sedang duduk diteras kelas. Seperti biasa mereka sedang cerita tentang siapa yang akan bertanding malam ini. Mereka saling memuji klub favorite masing-masing. Ivan yang tadi baru dari kantin membeli permen, membagi-bagikan sama kedua temannya itu.
Fendy membuang bungkusan permennya sembarangan (bukan di tempat sampah).
Waldiman                  : jangan buang sampahmu disitulah kawan, buanglah ditempat sampah (memandang kearah Fendy sambil menunjuk ke arah tempat sampah).
Fendy                         : Ialah (sambil mengambil sampahnya tadi dan membuangnya ditempat sampah).
Waldiman                  : Kau juga, Van ! Sampahmu itu buang di tempat sampah. (Menyuruh si Ivan).
Ivan                            : Mana.  Siapa yang membuang sampah sembarangan. Aku tidak membuang sampah kok, aku hanya menaruh sampah aja. Apa itu salah ?
Fendy                         : Sama aja kali. Membuang dan menaruh sama aja, yang penting kan bukan di tempat sampah kau taruh. (Tertawa kecil)
Valent dan Herta yang sejak tadi memperhatikan mereka datang untuk bergabung.
Valent                         : Kalian ngomongin masalah sampah ya. (Sambil memandang kearah mereka seakan memastikan yang dibilangnya itu benar).
Fendy & Waldiman   : Iya nih, kami lagi ngomongin masalah sampah.
Ivan                            : Sampah kok dipikirin (Berlagak serius tapi sebenarnya bercanda)
Herta                          : Jangan salah Van, sampah itu mesti harus dipikirin oleh seluruh lapisan masyarakat. (Memandang kearah Ivan yang sedang membuka permen keduanya).
Ivan                            : Ahh masa. . . (Mencandai si Herta)
Valent                         : Iya Ivan, sampah itu tanggungjawab kita bersama. Kamu masih ingat tidak waktu kita ngomongin masalah parit yang tergenang akibat sampah yang tertumpuk kemarin di simpang ?
Ivan                            : Iya masih . . (mengangguk-anggukkan kepalanya)
Herta                          : Iya, kami juga kemarin sempat ngomongin sampah yang bertumpuk di muara sungai Moawo ?
Fendy                         : Masalah yang sama ya. Tapi kenapa masyarakat tidak sadar-sadar juga ya . .
Waldiman                  : di situlah kita sebagai orang yang telah berpendidikan berperan!
Ivan                            : Maksudnya kau apa ? Ha . .
Waldiman                  : Kita semua kan sudah tahu sampah itu berakibat fatal bagi lingkungan...
Herta                          : Nah, kita sebagai siswa yang telah berpendidikan harus ambil bagian.
Ivan                            : Dalam hal apa ?
Waldiman                  : Ya, lewat sosialisasi ataupun bakti sosial.
Fendy                         : Benar itu, jangan kita tunggu- tunggu pemerintah. (Menyela pembicaraan).
Herta                          : Kamu kan Ketua Pramuka di sekolah kita ?
Valent                         : Iya tu, Van. Kamu kan Ketua Pramuka di sekolah kita, aku aja hampir lupa . . dan Gusman termasuk koordinatornya.
Waldiman                  : Benar itu. Mana si Gusman ? (Memandang sekeliling)
Fendy                         : Gusmaan .........Hu .....Gusman (Sambil berteriak)
Gusman                      : Iya (Menghentikan pekerjaannya yang sedang OL)
Fendy                         : Sini bentar dulu (Sambil memanggil dengan isyarat tangan )
Gusman                      : (Sambil berlari dari dalam kelas) Iya . . Kenapa ..?
Waldiman                  : Gak ada apa-apa, duduk dulu. (Menyuruh sambil menggeser sedikit seakan memberi tempat buat Gusman).
Ivan                            : Kembali ke yang tadi. Apa hubungannya aku Ketua Pramuka di sekolah dengan sampah yang disana. (Mengembalikan alur cerita)
Herta                          : Begini lo Van. Kamu programkan Bakti Sosial dan sosialisasi kebersihan lingkungan dilaksanakana oleh Pramuka ?
Ivan                            : Terus ? (agak penasaran)
Herta                          : Nanti bakti sosial itu diikuti oleh seluruh siswa disini.
Ivan                            : Jadi maksudmu, kita semua turun untuk membersihkan lingkungan diluar sekolah dan termasuk sungai itu. (Berlagak heran)
Valent                         : Yaialah Van.
Ivan                            : Ok lah, akan saya programkan dalam waktu dekat
Herta                          : Nah, itu baru Ivan namanya. .
Ivan                            : Asal ia ajalah. Ini nanti si Gusman yang membantu mengkoordinir. (Menepuk bahu Gusman).
Valent                         : Oklah, mudah-mudahan bisa terwujud dalam waktu dekat.
Waldiman                  : Masuk kelas yukk, udah bell.
Valent & Herta          : Yukk (Sambil berdiri dan masuk kelas)
Fendy                         : Ayo (Sambil berdiri dan berjalan memasuki kelas)
Mereka semua masuk kelas dan bersiap melanjutkan pelajaran berikutnya.

Dua minggu kemudian, tepatnya hari Jumat dilaksanakan Bakti Sosial untuk membersihkan lingkungan di luar sekolah (termasuk selokan dan sungai Moawo). Dan juga beberapa siswa terpilih untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk sadar akan pentinya kebersihan lingkungan. Bahwa dengan terciptanya lingkungan yang bersih maka akan tercipta lingkungan yang sehat dan sejuk.
Mudah – mudahan setelah dilaksanakannya program ini, maka masyarakat jadi sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan sehingga tercipta lingkungan yang sehat. Khususnya di lingkungan SMK Negeri 1 Gunungsitoli dan terlebih lingkungan desa Moawo pada umumnya.


Disusun Oleh : Kelompok VI

Pemeran :
Irvansyus Lawolo                             sebagai                       Ivan
Waldimansyah Bate’e                       sebagai                       Waldiman
Gusman Jaya Telaumbanua sebagai                       Gusman
Efendy Zendrato                               sebagai                       Fendy
Valentina Telaumbanua                   sebagai                       Valent
Bestina Hertamina Ziliwu                 sebagai                       Herta

sumber ; http://saybyme.blogspot.com/2012/08/contoh-naskah-drama-tentang-lingkungan.html