
Memperingati Haul Gus Dur ke-6. Bersama Cak Nun, Kiai Kanjeng, Mbak Alissa Wahid, KH. Abdul Muhaimin, Kyai Muzammil, dan tokoh-tokoh
lintas agama di Indonesia. Sinau Bareng malam ini
bertema “Belajar Kepada Manusia Gus Dur”
Garis Besar Pembahasan :
1. Meneladani sikap, strategi, pemikiran
dan karya-karya Gus Dur,
2. Belajar humanism dan menjadi negarawan
dari sosok manusia Gus Dur,
3. Sejarah berdirinya NU sejak
Syaikhona Kholil Bangkalan Madura – ( Kyai As’ad Syamsul Arifin Asembagus
Situbondo = Messenger berdirinya NU ) - Kyai Hasyim Asy’ari Jombang. Dari segi ruhiyah,
dan jasadiyatus
syajaroh (jasad
sejarah).
4. Empat Wasiat amanat Syaikhona
Kholil kepada 3 santrinya (kuncian dari Cak Nun: (pertama) pisang yang bermakna
kemakmuran, kekuasaan, (kedua dan ketiga) dua kitab (ilmu dan organisasi umat),
(keempat) cincin yang melambangkan sebuah ikatan kemakmuran kekuasaan dan ilmu
yang tersimpul erat yang akan menciptakan harmonisasi dengan alam-alam (jasad
dan ruhani).

Cak Nun bersama Alissa Wahid
……………………….
Sebagian hadirin menyaksikan melalui big screen
………………………………………………….

Suasana disekitar PP. Nurul Ummahat
Sumber :
3. Pengamatan langsung.
……………………………………………………………………
RESENSI selengkapnya_
Gus Dur:
Gus Dur dikenal sebagai tokoh
pluralis, toleran, demokratis dan dekat dengan semua golongan. Tetapi menarik,
bahwa malam ini KiaiKanjeng sedari awal, hingga saat ini, membawakan justru
nomor-nomor shalawatan yang khas pesantren seakan hendak mengingatkan akan
induk sejarah Gus Dur yaitu dunia santri, dunia pesantren, dan bahkan cucu dari
Hadhrotus Syaikh Hasyim Asya’ari yang mendirikan NU. Jauh sebelum Gus Dur
dikenal dengan berbagai predikat, ia adalah seorang santri.
Sebelum Cak Nun naik ke panggung, Mas Islamiyanto KiaiKanjeng
dan teman-teman mengajak seluruh jamaah yang memadati jalan kampung di depan
kompleks pondok ini untuk melantunkan Shalawat Nariyah, Syi’ir Tanpo Waton, dan Shalawat Badar. Dan tak lama
Shalawat Badar dibawakan, dari arah mushalla, Cak Nun didampingi Pak Kyai
Muhaimin, Mbak Alissa Wahid, dan para narasumber lain segera naik ke panggung,
dan semua jamaah dengan mata yang berbinar menyambut kedatangan Cak Nun. Tiba
duluan di panggung, Cak Nun langsung meminta Mbak Alissa dan lain-lain untuk
mengambil tempat di panggung.
……………………………
Mbak
Alissa :
Mendapatkan kesempatan pertama berbicara, Mbak Alissa
mengungkapkan, “Saya senang, dalam acara yang sangat cair ini, justru
tersampaikan banyak makna. Saya mau menangis, saat Cak Nun mengatakan anak-anak
muda mulai bersemi. Karena tadi saya mengeluh kepada Cak Nun sebagai kakak saya
dan sebagai orang yang pernah berjuang bersama Gus Dur, mau dibawa kemana
negeri ini. Rakyat kalah terus. Kanan-kiri penuh masalah. Doa al-Fatihah yang
dipimpin Cak Nun untuk Gus Dur dan para lelulur menurut saya lebih dari gelar
pahlawan. Gelar pahlawan adalah gelar materi. Sedangkan al-Fatihah adalah bekal
atau sangu di alam barzakh.”
Kemudian mbak Alissa menggambarkan sosok Gus Dur. “Gus Dur tidak
membela kelompok manapun, beliau hanya berjuang melaksanakan surat al-Maidah
ayat 8. Gus Dur juga tak perlu dipuja-puji. Beliau adalah seorang guru, tetapi
juga mengambil dari guru-guru lain. Dan semua ini adalah implementasi dari
semangat yang ditanamkan oleh Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah-Mbah lain saat
meletakkan aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) sebagai dasar bagi NU, yaitu sikap tasammuh dan tawassuth.”
………………………………..
KH. Abdul Muhaimin
Kyai Muhaimin sebagai memang mengundang sejumlah tokoh dari
agama-agama lain, dan hampir semuanya menyatakan kebahagiaannya melihat
kebersamaan pada Sinau Bareng ini. Tokoh-tokoh ini diminta menyampaikan pesan,
kesan, dan pandangannya mengenai Gus Dur. Tampaknya mereka baru kali ini
menghadiri Maiyahan secara langsung. Berbagai ungkapan disampaikan. Ada satu
yang mengawali uraiannya dengan menyapa hadirin dengan salam dari beberapa
agama. Tentang hal ini, Cak Nun sejenak menarik ke inti dengan menguraikan
kandungan makna salam atau assalamu’alaikum arahmatullahi wabarokatuh. Itu adalah komitmen dari yang mengucapkan salam
untuk saling mengamankan, serta agar semua bisa menjelma rahmat dan barokah.
“Islam itu tatanan dari Allah di antaranya dengan memerintahkan manusia jadi
khalifah sehingga mereka harus saling menyelamatkan. Salam itu karenanya
relevan diucapkan kepada siapapun saja. Pahami dulu salam tanpa lembaga. Anda
mengerti dulu esensinya.”
…………………………….
Cak Nun:
Mengenai pluralisme ini, Cak Nun
menegaskan, “Memang banyak istilah atau kata yang kepleset-pleset. Kata menjadi
tidak terdisiplinkan oleh maknanya. Termasuk pluralisme ini. Pluralisme itu
milik Allah. Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan ciri ‘tidak ada
duanya’, hanya ada satu, ya sesuatu itu sendiri yang berbeda
dengan sesuatu yang lain. Manusia yang satu beda dengan manusia yang lain. Tidak
ada yang tidak ‘tidak ada duanya’. Jadi ragam sekali ciptaan Allah. Karena itu
Allah yang punya pluralisme. Kita sekadar menjaga dan merawatnya. Jadi, jangan
banyak berbicara mengenai pluralisme, karena pluralisme itu sudah pasti. Dan
tak perlu anti-anti-an. Kalau anti, berarti butuh yang di-anti-in dulu. Kalau
bisa pro saja paradigmanya. Bukan antikorupsi, tapi pro kejujuran.”
Dalam salah satu responnya atas cerita Alissa mengenai Gus Dur,
Cak Nun mengingatkan Gus Dur itu juga sosok yang mblunat atau nakal, “Dan saya punya banyak
cerita tentang Gus Dur, yang sifatnya guyon, yang serem, bahkan yang
krusial-krusial. Alissa juga tahu, bahwa saya sering pula berbantah-bantahan
dengan Gus Dur, berbeda pendapat, bahkan berbeda strategi, tapi itu bukan
alasan untuk bermusuhan atau tidak bermesraan. Karena itulah temanya adalah
belajar kepada manusia Gus Dur. Jadi, kalau saya beracara malam ini, jangan
bilang saya mendukung Gus Dur. Gus Dur tak butuh dukungan. Yang ada adalah
setiap orang itu unik dan punya fadhilahnya masing-masing.”
………………………
Kyai
Muzammil:
Giliran Kyai Muzammil diberi kesempatan oleh Cak Nun. Kyai muda
asal Madura dan saat ini menjabat sebagai ketua Bahtsul Masail di PWNU
Yogyakarta dan santrinya Kyai As’ad Syamsul Arifin Asembagus Situbondo. Kyai
As’ad sendiri adalah sesepuh ulama NU yang meminta Gus Dur untuk mau jadi ketua
PBNU saat Muktamar NU di Situbondo pada waktu itu. Kyai Muzammil langsung
mengemukakan statement-statement, “Dari tadi saya melihat dan mendengar betapa
luar biasa Cak Nun merendahkan diri. Padahal Cak Nun ini orang yang sangat
cerdas. Sejauh yang saya tahu dan berdasarkan pengalaman saya, hanya ada tiga
orang cerdas di Indonesia. Gus Dur, Gus Miek, dan Cak Nun. Yang kedua pertama
sudah meninggalkan kita. Pelajarilah perjalanan hidup ketiga tokoh ini, anda
akan tahu bagaimana cerdasnya beliau-beliau. Cak Nun ini tokoh reformasi 1998,
dan dari semua tokoh reformasi itu, hanya Cak Nun yang tidak ambil jatah
kekuasaan sesudahnya. Jadi Indonesia punya hutang sama Cak Nun,” tegas Kyai
Muzammil.
Melihat Kyai Muzammil penuh
semangat, akhirnya Cak Nun mengajak dan meminta Kyai Muzammil bercerita lebih
jauh sejarah berdirinya NU sejak Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. “Yang kita
bicarakan dari tadi sifatnya ruhiyah, dan sekarang waktu jasadiyatus syajaroh (jasad sejarah). Tolong dipelajari
bagaimana umpamanya Gus Dur menjadi presiden. Siapa yang memproses dan
mengawalnya. Juga bagaimana sebenarnya yang terjadi pada reformasi,
asal-usulnya, dan bagaimana riilnya yang terjadi. Gus Dur sendiri punya nasab.
Gus Dur dan Jombang adalah juga sebuah sejarah tersendiri untuk memahami Gus
Dur,” ujar Cak Nun yang lalu mempersilakan Kyai Muzammil meneruskan peta,
pemahaman, dan sejarah berdirinya NU sejak dari Bangkalan hingga proses-proses
bagaimana Kiai As’ad menerima perintah dari Syaikhona Kholil untuk menyampaikan
pesan kepada Kyai Hasyim Asy’ari, dan Kyai Muzammil mendengarkan langsung dari
Kyai As’ad sebagai salah satu santrinya.
Closing Cak Nun :
Terakhir melengkapi paparan
sejarah Kyai Muzammil, Cak Nun menjelaskan bahwa Syaikhona Kholil memberikan
wasiat kepada tiga orang santrinya: pisang (kekuasaan) dan dua kitab (ilmu dan
organisasi umat). Jika diproyeksikan ke masa sekarang, era sejarah pisang dan
kitab sudah berlalu, dan sekarang tiba pada era santri keempat yang diberi juga
wasiat oleh Syaikhona Kholil, yaitu santri yang menerima cincin. “Kekuasaan
sudah, ilmu juga sudah. Sekarang adalah eranya amanat cincin. Dan itulah yang
kita hadapi bersama. Jika ini bisa berlangsung segera dan dengan baik, nanti
ilmu juga akan bangkit. Acara malam ini adalah khataman mengenai manusia Gus
Dur.
………………………
Dan doa penutup dibawakan oleh sohibul bait, yaitu KH Abdul
Muhaimin, yang sangat bangga dan bersyukur atas kebersamaan ilmu dan hikmah di
malam hari ini.
……………………………….
Selesai :
......................................................................................................................
Gerbang utama makam Hadhrotus Syaikh KH Hasyim Asya’ari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gud Dur)
………………………………….
Jadi inget saat di makam Syaikhona Kholil Bangkalan
Masjid
makam Syaikhona Kholil Bangkalan
................................................................
Halaman
masjid Syaikhona Kholil Bangkalan
…………………………….
Makam
Syaikhona Kholil Bangkalan
………………






video.....
BalasHapuspart 4
https://www.youtube.com/watch?v=kq9FYXyVhg0&ab_channel=KiaiGentong