WELCOME

"selamat datang di blog saya : Muhammad Sa'dullah el-Fattaah"_KRITIK & SARAN yang membangun akan senantiasa kami tunggu, VIA e-mail : lord_musa@yahoo.co.id

Sabtu, 09 Januari 2016

Belajar Kepada Manusia Gus Dur - Sinau Bareng bersama Mbah Nun @ pp. Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta


Memperingati Haul Gus Dur ke-6. Bersama Cak Nun, Kiai Kanjeng, Mbak Alissa Wahid, KH. Abdul Muhaimin, Kyai Muzammil, dan tokoh-tokoh lintas agama di Indonesia. Sinau Bareng malam ini bertema “Belajar Kepada Manusia Gus Dur”
Garis Besar Pembahasan :
1. Meneladani sikap, strategi, pemikiran dan karya-karya Gus Dur,
2. Belajar humanism dan menjadi negarawan dari sosok manusia Gus Dur,
3. Sejarah berdirinya NU sejak Syaikhona Kholil Bangkalan Madura – ( Kyai As’ad Syamsul Arifin Asembagus Situbondo = Messenger berdirinya NU ) - Kyai Hasyim Asy’ari Jombang. Dari segi ruhiyah, dan jasadiyatus syajaroh (jasad sejarah).
4. Empat Wasiat amanat Syaikhona Kholil kepada 3 santrinya (kuncian dari Cak Nun: (pertama) pisang yang bermakna kemakmuran, kekuasaan, (kedua dan ketiga) dua kitab (ilmu dan organisasi umat), (keempat) cincin yang melambangkan sebuah ikatan kemakmuran kekuasaan dan ilmu yang tersimpul erat yang akan menciptakan harmonisasi dengan alam-alam (jasad dan ruhani).

Cak Nun bersama Alissa Wahid
Cak Nun bersama Alissa Wahid
……………………….
Sebagian hadirin menyaksikan melalui big screen 

Sebagian hadirin menyaksikan melalui big screen
………………………………………………….
Suasana disekitar PP. Nurul Ummahat
Suasana disekitar PP. Nurul Ummahat

Sumber :
3. Pengamatan langsung.
……………………………………………………………………
RESENSI selengkapnya_

Gus Dur:
      Gus Dur dikenal sebagai tokoh pluralis, toleran, demokratis dan dekat dengan semua golongan. Tetapi menarik, bahwa malam ini KiaiKanjeng sedari awal, hingga saat ini, membawakan justru nomor-nomor shalawatan yang khas pesantren seakan hendak mengingatkan akan induk sejarah Gus Dur yaitu dunia santri, dunia pesantren, dan bahkan cucu dari Hadhrotus Syaikh Hasyim Asya’ari yang mendirikan NU. Jauh sebelum Gus Dur dikenal dengan berbagai predikat, ia adalah seorang santri.
      Sebelum Cak Nun naik ke panggung, Mas Islamiyanto KiaiKanjeng dan teman-teman mengajak seluruh jamaah yang memadati jalan kampung di depan kompleks pondok ini untuk melantunkan Shalawat Nariyah, Syi’ir Tanpo Waton, dan Shalawat Badar. Dan tak lama Shalawat Badar dibawakan, dari arah mushalla, Cak Nun didampingi Pak Kyai Muhaimin, Mbak Alissa Wahid, dan para narasumber lain segera naik ke panggung, dan semua jamaah dengan mata yang berbinar menyambut kedatangan Cak Nun. Tiba duluan di panggung, Cak Nun langsung meminta Mbak Alissa dan lain-lain untuk mengambil tempat di panggung.
……………………………
Mbak Alissa :
      Mendapatkan kesempatan pertama berbicara, Mbak Alissa mengungkapkan, “Saya senang, dalam acara yang sangat cair ini, justru tersampaikan banyak makna. Saya mau menangis, saat Cak Nun mengatakan anak-anak muda mulai bersemi. Karena tadi saya mengeluh kepada Cak Nun sebagai kakak saya dan sebagai orang yang pernah berjuang bersama Gus Dur, mau dibawa kemana negeri ini. Rakyat kalah terus. Kanan-kiri penuh masalah. Doa al-Fatihah yang dipimpin Cak Nun untuk Gus Dur dan para lelulur menurut saya lebih dari gelar pahlawan. Gelar pahlawan adalah gelar materi. Sedangkan al-Fatihah adalah bekal atau sangu di alam barzakh.”
      Kemudian mbak Alissa menggambarkan sosok Gus Dur. “Gus Dur tidak membela kelompok manapun, beliau hanya berjuang melaksanakan surat al-Maidah ayat 8. Gus Dur juga tak perlu dipuja-puji. Beliau adalah seorang guru, tetapi juga mengambil dari guru-guru lain. Dan semua ini adalah implementasi dari semangat yang ditanamkan oleh Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah-Mbah lain saat meletakkan aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) sebagai dasar bagi NU, yaitu sikap tasammuh dan tawassuth.”
………………………………..
KH. Abdul Muhaimin 
      Kyai Muhaimin sebagai memang mengundang sejumlah tokoh dari agama-agama lain, dan hampir semuanya menyatakan kebahagiaannya melihat kebersamaan pada Sinau Bareng ini. Tokoh-tokoh ini diminta menyampaikan pesan, kesan, dan pandangannya mengenai Gus Dur. Tampaknya mereka baru kali ini menghadiri Maiyahan secara langsung. Berbagai ungkapan disampaikan. Ada satu yang mengawali uraiannya dengan menyapa hadirin dengan salam dari beberapa agama. Tentang hal ini, Cak Nun sejenak menarik ke inti dengan menguraikan kandungan makna salam atau assalamu’alaikum arahmatullahi wabarokatuh. Itu adalah komitmen dari yang mengucapkan salam untuk saling mengamankan, serta agar semua bisa menjelma rahmat dan barokah. “Islam itu tatanan dari Allah di antaranya dengan memerintahkan manusia jadi khalifah sehingga mereka harus saling menyelamatkan. Salam itu karenanya relevan diucapkan kepada siapapun saja. Pahami dulu salam tanpa lembaga. Anda mengerti dulu esensinya.”
…………………………….
Cak Nun:
     Mengenai pluralisme ini, Cak Nun menegaskan, “Memang banyak istilah atau kata yang kepleset-pleset. Kata menjadi tidak terdisiplinkan oleh maknanya. Termasuk pluralisme ini. Pluralisme itu milik Allah. Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan ciri ‘tidak ada duanya’, hanya ada satu, ya sesuatu itu sendiri yang berbeda dengan sesuatu yang lain. Manusia yang satu beda dengan manusia yang lain. Tidak ada yang tidak ‘tidak ada duanya’. Jadi ragam sekali ciptaan Allah. Karena itu Allah yang punya pluralisme. Kita sekadar menjaga dan merawatnya. Jadi, jangan banyak berbicara mengenai pluralisme, karena pluralisme itu sudah pasti. Dan tak perlu anti-anti-an. Kalau anti, berarti butuh yang di-anti-in dulu. Kalau bisa pro saja paradigmanya. Bukan antikorupsi, tapi pro kejujuran.”
     Dalam salah satu responnya atas cerita Alissa mengenai Gus Dur, Cak Nun mengingatkan Gus Dur itu juga sosok yang mblunat atau nakal, “Dan saya punya banyak cerita tentang Gus Dur, yang sifatnya guyon, yang serem, bahkan yang krusial-krusial. Alissa juga tahu, bahwa saya sering pula berbantah-bantahan dengan Gus Dur, berbeda pendapat, bahkan berbeda strategi, tapi itu bukan alasan untuk bermusuhan atau tidak bermesraan. Karena itulah temanya adalah belajar kepada manusia Gus Dur. Jadi, kalau saya beracara malam ini, jangan bilang saya mendukung Gus Dur. Gus Dur tak butuh dukungan. Yang ada adalah setiap orang itu unik dan punya fadhilahnya masing-masing.”
………………………
Kyai Muzammil:
     Giliran Kyai Muzammil diberi kesempatan oleh Cak Nun. Kyai muda asal Madura dan saat ini menjabat sebagai ketua Bahtsul Masail di PWNU Yogyakarta dan santrinya Kyai As’ad Syamsul Arifin Asembagus Situbondo. Kyai As’ad sendiri adalah sesepuh ulama NU yang meminta Gus Dur untuk mau jadi ketua PBNU saat Muktamar NU di Situbondo pada waktu itu. Kyai Muzammil langsung mengemukakan statement-statement, “Dari tadi saya melihat dan mendengar betapa luar biasa Cak Nun merendahkan diri. Padahal Cak Nun ini orang yang sangat cerdas. Sejauh yang saya tahu dan berdasarkan pengalaman saya, hanya ada tiga orang cerdas di Indonesia. Gus Dur, Gus Miek, dan Cak Nun. Yang kedua pertama sudah meninggalkan kita. Pelajarilah perjalanan hidup ketiga tokoh ini, anda akan tahu bagaimana cerdasnya beliau-beliau. Cak Nun ini tokoh reformasi 1998, dan dari semua tokoh reformasi itu, hanya Cak Nun yang tidak ambil jatah kekuasaan sesudahnya. Jadi Indonesia punya hutang sama Cak Nun,” tegas Kyai Muzammil.
     Melihat Kyai Muzammil penuh semangat, akhirnya Cak Nun mengajak dan meminta Kyai Muzammil bercerita lebih jauh sejarah berdirinya NU sejak Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. “Yang kita bicarakan dari tadi sifatnya ruhiyah, dan sekarang waktu jasadiyatus syajaroh (jasad sejarah). Tolong dipelajari bagaimana umpamanya Gus Dur menjadi presiden. Siapa yang memproses dan mengawalnya. Juga bagaimana sebenarnya yang terjadi pada reformasi, asal-usulnya, dan bagaimana riilnya yang terjadi. Gus Dur sendiri punya nasab. Gus Dur dan Jombang adalah juga sebuah sejarah tersendiri untuk memahami Gus Dur,” ujar Cak Nun yang lalu mempersilakan Kyai Muzammil meneruskan peta, pemahaman, dan sejarah berdirinya NU sejak dari Bangkalan hingga proses-proses bagaimana Kiai As’ad menerima perintah dari Syaikhona Kholil untuk menyampaikan pesan kepada Kyai Hasyim Asy’ari, dan Kyai Muzammil mendengarkan langsung dari Kyai As’ad sebagai salah satu santrinya.

Closing Cak Nun :
      Terakhir melengkapi paparan sejarah Kyai Muzammil, Cak Nun menjelaskan bahwa Syaikhona Kholil memberikan wasiat kepada tiga orang santrinya: pisang (kekuasaan) dan dua kitab (ilmu dan organisasi umat). Jika diproyeksikan ke masa sekarang, era sejarah pisang dan kitab sudah berlalu, dan sekarang tiba pada era santri keempat yang diberi juga wasiat oleh Syaikhona Kholil, yaitu santri yang menerima cincin. “Kekuasaan sudah, ilmu juga sudah. Sekarang adalah eranya amanat cincin. Dan itulah yang kita hadapi bersama. Jika ini bisa berlangsung segera dan dengan baik, nanti ilmu juga akan bangkit. Acara malam ini adalah khataman mengenai manusia Gus Dur.
………………………
Dan doa penutup dibawakan oleh sohibul bait, yaitu KH Abdul Muhaimin, yang sangat bangga dan bersyukur atas kebersamaan ilmu dan hikmah di malam hari ini.
……………………………….
Selesai :



 ......................................................................................................................
Gerbang utama makam Hadhrotus Syaikh KH Hasyim Asya’ari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gud Dur)
………………………………….
Jadi inget saat di makam Syaikhona Kholil Bangkalan

Masjid makam Syaikhona Kholil Bangkalan
................................................................

Halaman masjid Syaikhona Kholil Bangkalan
…………………………….

Makam Syaikhona Kholil Bangkalan

………………


1 komentar:

  1. video.....
    part 4
    https://www.youtube.com/watch?v=kq9FYXyVhg0&ab_channel=KiaiGentong

    BalasHapus